Hoshinews.com – Ketua Forum Ekonomi Manusiawi (FEM) Prof. Dato’ Dr. Saadiah Mohamad menegaskan, “Janji Nasional tidak boleh berhenti sebagai janji satu arah.”
FEM memberikan apresiasi kepada Perdana Menteri yang juga Menteri Keuangan, Dato’ Seri Anwar Ibrahim, beserta seluruh jajaran Kementerian Keuangan atas penyusunan APBN 2027 yang komprehensif, inklusif, dan visioner.
FEM mengapresiasi proses dialog yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat, industri, akademisi, dan masyarakat sipil. Sebab ekonomi yang baik tidak hanya lahir dari angka dan analisis, tapi juga dari kemampuan memahami keresahan, realita hidup, dan aspirasi rakyat.
APBN ini dinilai sejalan dengan aspirasi ekonomi manusiawi yang digaungkan FEM melalui Humane Economy Global Discourse (HEGD) 2026: pertumbuhan harus bermuara pada kesejahteraan, keadilan distribusi, dan kehidupan yang bermartabat.
Salah satu yang paling segar adalah gagasan “Waad Nasional” atau Janji Nasional, yang mengangkat APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) dari sekadar dokumen fiskal menjadi sebuah ikatan moral berbasis amanah dan keadilan.
Namun, Janji Nasional tidak bisa hanya menjadi janji pemerintah. Pemerintah wajib menyediakan peluang, perlindungan, dan tata kelola yang adil. Sementara rakyat juga harus menyambutnya.
Rumah tangga harus bijak mengelola keuangan, kesehatan, dan pendidikan keluarga. Pekerja harus meningkatkan ilmu, keterampilan, dan integritas. Pengusaha harus memastikan upah yang adil dan pekerjaan yang bermartabat. Janji Nasional harus diterjemahkan menjadi tanggung jawab kolektif yang hasilnya nyata.
FEM menyambut baik “Program BUDI Pemuda”, yang memberikan e-wallet senilai RM100 bagi pemuda yang menyelesaikan jam kerelawanan bersama LSM terpilih. Ini adalah cara menanamkan nilai-nilai MADANI seperti kepedulian sosial lewat aksi nyata, bukan sekadar slogan.
Namun, RM100 ini harus menjadi pemicu, bukan garis akhir. Keberlanjutan kegiatan, dukungan LSM, dan ukuran pembentukan karakter harus diperjelas. Sukses tidak diukur dari berapa banyak e-wallet yang dibagikan, tapi dari seberapa banyak anak muda yang tetap terlibat secara sukarela.
APBN ini juga menjangkau B40, M40, lansia, perempuan, pemuda, pekerja gig, hingga UMKM. Di sisi lain, investasi pada perdagangan, produktivitas, kecerdasan buatan (AI), ekonomi baru, transisi energi, dan industri kreatif seperti film dan animasi dinilai penting untuk kemakmuran masa depan.
Langkah penyusunan RUU Lansia untuk mencegah penelantaran dan memperkuat ekosistem perawatan, serta peningkatan bantuan hingga RM1,3 miliar untuk hampir 200.000 penerima, juga mendapat apresiasi. Karena ukuran kasih sebuah bangsa terlihat dari bagaimana martabat warganya dijaga hingga usia senja.
Upaya mempersempit kesenjangan wilayah, khususnya Sabah dan Sarawak, serta jurang kota-desa harus terus dilanjutkan.
FEM juga mengapresiasi agenda Bumiputera melalui Rencana Transformasi Ekonomi Bumiputera 2035 (PuTERA35), termasuk penetapan 50 hektar Tanah Cagar Melayu di Kuala Lumpur dan endowmen tanah strategis seluas 50 hektar senilai RM1 miliar.
Untuk komunitas India, MITRA dialokasikan RM150 juta untuk pelatihan dan lapangan kerja pemuda. Sementara pembiayaan TEKUN dan Amanah Ikhtiar Malaysia (AIM) ditingkatkan menjadi RM150 juta untuk pengusaha kecil.
Pada akhirnya, FEM mengingatkan bahwa berbagai bantuan dalam APBN ini tidak boleh dipandang sebagai *’gula-gula pemilu’*. Semua memiliki rasional sosial dan ekonomi yang jelas, namun harus dinilai dari ketepatan sasaran, efektivitas pelaksanaan, dan dampak jangka panjangnya.
Ukuran keberhasilan APBN 2027 bukanlah seberapa besar angka yang diumumkan, melainkan perubahan yang bisa dibuktikan, pendapatan riil yang naik, pekerjaan yang lebih bermartabat, akses pendidikan dan kesehatan yang lebih baik, serta masyarakat yang lebih berintegritas dan peduli.
Ekonomi yang sukses bukan hanya ekonomi yang tumbuh, tapi ekonomi yang memakmurkan kehidupan dan mengangkat martabat manusia. (Ramadan)




















