Hoshinews.com, Batam — Tindakan sepihak merobohkan fasilitas umum berupa jembatan penghubung antara Perumahan Tiban Makmur dan Perumahan Tiban Nirwana terus memicu gelombang protes dari masyarakat. Keputusan drastis yang diambil tanpa melalui proses sosialisasi atau ruang dialog dinilai telah mencederai rasa keadilan serta mengabaikan aspek kemanusiaan bagi warga terdampak.
Kecaman keras ini disuarakan oleh salah seorang warga setempat, Riki.
Ia menilai pembongkaran akses vital tersebut sangat tidak berperi kemanusiaan dan merugikan hajat hidup orang banyak yang selama ini menggantungkan aktivitas hariannya pada jembatan tersebut.
“Dengan dirobohkannya jembatan satu-satunya akses antara Perumahan Tiban Nirwana dengan Perumahan Tiban Makmur ini sangat disesalkan dan sangat tidak berperikemanusiaan. Karena dihancurnya jembatan ini dilakukan secara sepihak oleh pihak RW dan developer pengembang perumahan Nirwana, tanpa dahulu bersosialisasi maupun koordinasi,” ungkap Riki dengan nada kecewa, Kamis (17/9/2026).
Meskipun akar gesekan administratif yang memicu ketegangan tersebut berada di ranah koordinasi internal antara pengurus RT dan RW, warga menegaskan bahwa dampak nyata dari terputusnya akses jembatan ini langsung memukul telak sendi-sendi kehidupan masyarakat luas.
Hilangnya jalur pintas tersebut membuat arus mobilitas harian warga terganggu secara signifikan. Para jemaah yang hendak menunaikan ibadah ke Masjid Nirwana, para ibu rumah tangga yang mengantar anak-anak mereka ke sekolah, hingga warga yang hendak berbelanja kebutuhan pokok kini terpaksa harus memutar dengan jarak yang jauh lebih melelahkan. Kondisi ini dirasakan paling memberatkan oleh warga lansia serta mereka yang tidak memiliki kendaraan pribadi.
“Dampak akses jembatan dihancurkan sangat merugikan warga, terutama warga yang ketergantungan melewati jembatan itu, seperti mau beribadah ke Masjid Nirwana, lalu para ibu-ibu mengantar anak sekolah, baik juga keperluan belanja dan lainnya,” keluh Riki.
Warga menilai bahwa tindakan merusak fasilitas umum bukanlah jalan keluar yang patut ditempuh dalam menyelesaikan masalah sosial di lingkungan perumahan. Masih banyak opsi musyawarah dan ide kreatif lain yang bisa dikedepankan tanpa harus mengorbankan kepentingan publik.
“Seharusnya bukan begini menyelesaikan permasalahannya, masih banyak solusi maupun ide lainnya. Apa Perumahan Nirwana resah banyak masyarakat yang melalui di perumahan mereka? Pertanyaan kenapa harus dirobohkan, masalahnya apa, sampai segitunya,” tambah Riki mempertanyakan motif di balik tindakan tersebut.
Menyikapi situasi yang kian meresahkan ini, masyarakat mendesak pihak kelurahan, kecamatan, hingga instansi terkait di lingkungan Pemerintah Kota Batam untuk segera turun tangan memediasi kedua belah pihak. Warga berharap ada langkah tegas untuk mencari solusi terbaik demi memulihkan kembali akses jembatan yang sangat diandalkan bagi kelancaran aktivitas sehari-hari. (Yadi)


















