Kehidupan Zulfa: Pelajar yang Berjuang di Tengah Kesulitan
Seorang pelajar kelas 7 Tsanawiyah di Kabupaten Garut, Jawa Barat, bernama Zulfatunnisa Qaulani Ma’ruf (13) menjadi sorotan media sosial. Kisahnya viral setelah video menampilkan dirinya belajar di ruang kelas sambil membawa adik bungsunya yang masih berusia 16 bulan. Dalam video lainnya, ia tampak duduk di halaman sekolah dengan wadah berisi jajanan kecil yang sedang ia jual.
Zulfa tinggal di Kampung Panyingkiran, Desa Situsaeur, Kecamatan Karangpawitan, dan bersekolah di MTS Al Iryad. Rumahnya tidak jauh dari sekolah, hanya sekitar lima menit berjalan kaki dari gerbang. Saat diwawancara oleh jurnalis, senyum manis Zulfa merekah. Ia baru saja selesai beraktivitas di lapangan sekolah sebelum jam pulang.
Bantuan Orang Tua dan Kehidupan Sehari-hari
Zulfa menjelaskan bahwa ia kini menjalani hari-harinya seperti biasa, yaitu membantu orang tua mengasuh adiknya dan berjualan makanan ringan di sekolah. Sepulang sekolah, ia juga berjualan dari hasil panen ayahnya di ladang seperti timun, cabe, dan sayuran lain.
Ia mengatakan bahwa membawa adik ke sekolah adalah upaya untuk membantu meringankan beban ibunya, yang harus menemani ayahnya mengurus ladang. “Karena mamah dan bapak lagi ke sawah, jadi ga ada yang jagain ade,” ujarnya.
Di rumah, Aneu Aliyah (37) dan Ade Ma’ruf (51), kedua orangtuanya, sudah menunggu. Di sepanjang perjalanan ke rumah, Zulfa bercerita tentang cita-citanya menjadi fotografer. “Ingin jadi fotografer,” katanya.
Kehidupan Keluarga yang Penuh Perjuangan
Aneu menjelaskan bahwa anak bungsunya, Dede, mengalami down syndrome dan memiliki lima penyakit penyerta. Selama ini, keluarga terus bolak-balik rumah sakit untuk pengobatan. “Dede itu mengalami down syndrome, ada lima penyerta yang sekarang sedang dialami, dari sejak lahir sampai sekarang kami bolak-balik rumah sakit untuk pengobatan,” ujarnya.
Usaha keluarga dalam berjualan snack juga belum optimal karena fokus pada pengobatan Dede. “Karena fokus ngurus dede berobat, usaha snack jadi tak seratus persen, kekurangan modal juga, ya paling 100 ribu,” ujarnya.
Aneu juga mengatakan bahwa selama ini ia berbelanja bahan baku mentah seperti kerupuk, makaroni, dan baso goreng, lalu diolah menjadi berbagai jenis snack. Meski sederhana, aktivitas berdagang ini cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sembari menunggu hasil panen di sawah milik kerabat.
Harapan Orang Tua untuk Zulfa
Aneu mendukung penuh keinginan Zulfa menjadi fotografer. Ia menyebut bahwa Zulfa cukup lihai dalam menyunting foto di smartphone-nya. “Ini kan ada hape satu punya ibunya, berdua aja sama Zulfa, ya memang dia suka sekali dengan foto suka ngedit begitu,” ujarnya.
Ia juga berharap pendidikan Zulfa dapat berjalan baik hingga jenjang yang lebih tinggi. “Ya harapannya semoga sukses, masuk sekolah ke sekolah yang dia mau, semoga cita-citanya tercapai dan tak terganggu juga sama saya yang menitipkan dagangan ke dia,” tandasnya.
Keterbatasan dan Keberanian
Meskipun hidupnya penuh tantangan, Zulfa tetap bersemangat. Ia menggunakan ponsel milik ibunya untuk berbagai keperluan, mulai dari belajar daring hingga berkomunikasi dengan guru dan teman sekolahnya. “Jadi hape juga ya dipake berdua aja bergiliran,” ujarnya.
Selain itu, televisi tabung 16 inci berwarna abu-abu milik keluarga ternyata rusak sejak dua atau tiga bulan lalu. “Udah dua atau tiga bulan rusak, udah gak nonton tv. Waktu katanya tayang di tv, taunya dikasih tahu guru, hanya lihat di hape juga,” ujar Aneu.
Pengakuan dari Sekolah
Kepala MTs Al Iryad, Reni Sari Anggraeni, mengatakan bahwa Zulfa merupakan pelajar yang aktif dan maju dalam pelajarannya. Pihak sekolah memang mengizinkan Zulfa untuk membantu kedua orangtuanya dengan mengasuh sang adik bahkan sampai dibawa ke kelas. “Ya itu kami izinkan, orangtuanya juga izin ke kami, tidak setiap hari, paling di jam tenang aja, jam seperti ini ya antara jam mau pulang misalnya,” ujarnya.
Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, Zulfa tetap berjuang dan berharap bisa meraih cita-citanya. Semangatnya menjadi inspirasi bagi banyak orang.

















Discussion about this post