Peran Digitalisasi dalam Pemberdayaan UMKM dan Masyarakat
Digitalisasi menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi perkembangan bisnis dan ekonomi di era modern. Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, pelaku usaha khususnya UMKM perlu mengadaptasi diri agar dapat memperluas pasar dan meningkatkan daya saing. Hal ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Layanan TI Masyarakat dan Pemerintah, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Komdigi, Yulis Widyo Marfiah, saat acara Sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat Melalui Digitalisasi di Sukabumi pada Sabtu (25/10).
Acara ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya digitalisasi kepada berbagai kelompok masyarakat, seperti pelaku UMKM, ibu rumah tangga, mahasiswa, hingga guru. Yulis menyampaikan bahwa tantangan UMKM kini bukan lagi hanya terkait produksi, tetapi juga strategi digital.
Kompetisi Hidden Gem 2025 untuk Mendukung UMKM Lokal
Dalam kesempatan tersebut, BAKTI Komdigi juga memperkenalkan Kompetisi Hidden Gem 2025, yang dibuka untuk mendukung UMKM lokal. Kompetisi ini akan berlangsung dari 26 Agustus hingga 31 Oktober 2025 untuk pendaftaran, dilanjutkan dengan seleksi dan penjurian pada 1–27 November 2025, serta pengumuman pemenang pada 28 November 2025. Informasi lebih lengkap bisa dilihat di https://hiddengem.baktikominfo.id/.
Program transformasi digital BAKTI Komdigi ini fokus pada pemberdayaan desa dan UMKM untuk menciptakan ekosistem digital yang inklusif, berkelanjutan, dan menguntungkan bagi semua lapisan masyarakat Indonesia.
Literasi Digital dan Tantangan yang Dihadapi
Kepala Bidang Persandian dan Keamanan Informasi Diskominfo Sukabumi, Ujang Zulkifli, menyebutkan bahwa sebanyak 72% warga Sukabumi sudah menggunakan internet dan media sosial. Namun, tingkat pendidikan masih menjadi perhatian khusus dalam program literasi digital. Ia menekankan pentingnya pendekatan konsisten kepada warga agar informasi yang disampaikan bisa sampai ke seluruh lapisan masyarakat sesuai dengan visi dan misi Kabupaten Sukabumi.
Dewan Pengawas BAKTI Komdigi sekaligus tokoh masyarakat Sukabumi, Arfa Gunawan, menyatakan bahwa teknologi merupakan hak seluruh masyarakat Indonesia yang harus dimanfaatkan secara bijak. “Teknologi ibarat pisau bermata dua, bisa memberikan dampak positif, dan bisa juga memberikan dampak negatif,” ujarnya dalam keynote speech-nya.
Arfa menambahkan bahwa masyarakat kini memiliki peluang untuk menjadi kreator konten, YouTuber, atau artis dengan memanfaatkan teknologi digital. Komdigi berkomitmen memfasilitasi peluang tersebut melalui berbagai program, salah satunya seminar digitalisasi.
Pentingnya Personal Branding dalam Era Digital
Dalam sesi sosialisasi, sejumlah praktisi dan ahli dihadirkan untuk sharing pengetahuan kepada para peserta. Praktisi Digital Marketing Guntur Sinaga menyampaikan materi pentingnya personal branding bagi pelaku UMKM dan profesional di era digital. Ia menjelaskan bahwa personal branding adalah citra atau cara orang melihat diri seseorang.
Guntur menyebut tiga elemen penting dalam membangun personal branding, yakni nilai yang diperjuangkan, kekuatan atau alasan orang harus percaya, serta gaya komunikasi yang membuat orang mau mendengarkan. “Online membangun ekspektasi, offline membuktikan kenyataan,” ujar Guntur.
Strategi Hybrid untuk Meningkatkan Omset UMKM
Koordinator UMKM Naik Kelas Kota Sukabumi, Sri Puji Rahayu, memaparkan bahwa digitalisasi terbukti dapat menaikkan omset UMKM melalui strategi online-offline. “Perluasan pasar bisa mencapai 3 kali lipat, peningkatan omset 20% dalam 6 bulan, dan tembus pasar nasional,” kata Sri Puji.
Sri Puji menjelaskan langkah awal digitalisasi usaha dimulai dari membuat akun media sosial bisnis, menggunakan aplikasi pendukung, dan mempelajari pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) digital. Pemasaran digital sederhana namun efektif dapat dilakukan melalui WhatsApp Marketing, posting rutin konten berkualitas, dan memanfaatkan marketplace.
Tantangan dan Solusi dalam Transformasi Digital
Praktisi digitalisasi, Imam Hidayatullah, mengungkapkan bahwa UMKM di Sukabumi masih menghadapi sejumlah tantangan dalam transformasi digital. Tantangan tersebut meliputi literasi digital yang masih rendah, keterbatasan akses internet, kurangnya pendampingan, serta metode konvensional yang masih dominan.
“Digitalisasi bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan untuk kemajuan bersama,” ujar Imam. Ia menekankan strategi penguatan UMKM menuju digitalisasi harus mencakup pelatihan dan literasi digital, dukungan infrastruktur dan internet, inkubasi bisnis digital, serta kolaborasi antara pemerintah dan swasta.
Kesiapan Masyarakat Menghadapi Dunia Digital
Staf Ahli Komisi XI DPR RI, Dedy Kusuma Wardhani, menyoroti pentingnya peningkatan literasi digital dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia. “Indeks literasi digital 2022 sebesar 3,54, naik 0,05 dari 2021. Namun digital culture mengalami penurunan dan kesadaran keamanan digital masih lemah,” kata Dedy.
Dedy menjelaskan bahwa literasi digital mencakup empat pilar utama, yaitu Digital Skill (kemampuan menggunakan perangkat digital), Digital Ethics (kesadaran dan penerapan etika digital), Digital Safety (perlindungan data dan keamanan), serta Digital Culture.
Perlindungan Data dan Kesadaran Keamanan Siber
M.Syakir Ramdhoni menyoroti pentingnya memperkuat literasi digital dan keamanan siber untuk mengatasi kejahatan digital. Ia menyebutkan bahwa masalah digital terbesar di Indonesia saat ini adalah judi online dan pinjaman online. “Sebodoh-bodohnya orang, adalah orang yang bermain judi online,” kata Syakir.
Syakir menekankan pentingnya penguatan pada empat aspek, yakni digital skill, etik digital, digital safety, dan digital culture. Yang paling penting, menurutnya, adalah menjaga data pribadi agar tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.


















Discussion about this post