Tren Aksi Buyback Saham yang Menarik Perhatian Investor
Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah perusahaan besar di Indonesia melakukan aksi korporasi berupa pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai yang cukup besar. Hal ini menunjukkan bahwa para emiten tersebut memiliki posisi keuangan yang kuat dan valuasi saham yang dianggap murah.
Salah satu contohnya adalah PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), sebuah perusahaan batubara yang telah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk melakukan buyback senilai Rp 2,49 triliun. Manajemen ITMG menyatakan bahwa salah satu alasan utama buyback adalah karena harga saham saat ini belum sepenuhnya mencerminkan nilai fundamental dan prospek jangka panjang perusahaan.
Pembelian saham kembali akan dilakukan melalui Bursa Efek, baik secara bertahap maupun sekaligus, dan harus diselesaikan paling lambat 12 bulan setelah RUPSLB. Dengan langkah ini, perusahaan berharap dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap sahamnya.
Selain ITMG, ada juga PT Astra International Tbk (ASII) yang baru-baru ini mengumumkan rencana buyback saham dengan jumlah maksimal Rp 2 triliun. Jumlah tersebut tidak akan melebihi 20% dari modal ditempatkan dan disetor perusahaan. Selain itu, jumlah saham free float setelah pelaksanaan buyback tidak akan menjadi kurang dari 7,5% dari modal ditempatkan dan disetor perusahaan. Program buyback ASII berlangsung dari 3 November 2025 hingga 30 Januari 2026.
Anak usaha ASII, yaitu PT United Tractors Tbk (UNTR), juga melakukan buyback saham dengan jumlah maksimal Rp 2 triliun. Program ini berlangsung dari 31 Oktober 2025 sampai 30 Januari 2026. Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyiapkan dana maksimal sebesar Rp 5 triliun untuk buyback saham. Aksi korporasi ini berlangsung dari 22 Oktober 2025 hingga 19 Januari 2026.
Alasan Mengapa Emiten Melakukan Buyback
Menurut analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, gencarnya aksi buyback saham oleh sejumlah emiten besar saat ini mencerminkan kombinasi antara kondisi fundamental emiten yang kuat, valuasi saham yang dianggap undervalued, serta posisi kas yang solid.
Emiten dengan neraca keuangan yang sehat dan posisi kas yang besar memiliki ruang untuk melakukan buyback tanpa mengganggu arus kas operasional atau ekspansi bisnis. Di samping itu, kondisi pasar yang relatif berfluktuasi belakangan ini turut menciptakan peluang bagi emiten untuk membeli kembali sahamnya di level harga yang dianggap menarik.
“Aksi buyback sering dimanfaatkan manajemen sebagai sinyal kepercayaan terhadap prospek jangka panjang perusahaan dan upaya menjaga stabilitas harga saham di tengah potensi pelemahan likuiditas pasar,” kata Reza.
Sementara itu, analis Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyatakan bahwa mayoritas emiten melakukan buyback karena valuasi sahamnya sudah berada di bawah nilai wajarnya. Ditambah lagi, likuiditas pasar saat ini cukup tinggi sehingga dapat mendukung pelaksanaan buyback saham.
“Buyback juga bisa membantu menjaga stabilitas harga saham di tengah volatilitas indeks,” imbuh dia.
Dampak dan Keuntungan dari Aksi Buyback
Dalam jangka pendek, aksi buyback saham biasanya dapat berdampak positif bagi emiten yang bersangkutan. Sebab, aksi korporasi tersebut dapat mendorong sentimen bullish dan meningkatkan earning per share (EPS) melalui pengurangan jumlah saham yang beredar.
Di sisi lain, buyback saham dapat menimbulkan dampak secara keuangan berupa penurunan kas meski tidak signifikan bagi emiten besar. “Buat investor, buyback ini menunjukkan kepercayaan dari manajemen emiten, sehingga bisa menjadi momentum akumulasi,” kata Wafi.
Menurut Reza, buyback saham bisa memberi dua efek utama bagi investor. Pertama, secara psikologis, aksi buyback saham akan memperkuat kepercayaan pasar terhadap prospek jangka panjang emiten. Kedua, secara finansial, aksi buyback berpotensi meningkatkan nilai kepemilikan per saham karena jumlah saham beredar telah berkurang.
“Namun, efeknya terhadap harga saham tidak selalu langsung signifikan, tergantung pada skala buyback, kondisi pasar, dan keberlanjutan kinerja fundamental emiten ke depan,” terang dia.
Proyeksi dan Rekomendasi Investasi
Reza memprediksi bahwa tren buyback saham diperkirakan masih akan berlanjut hingga awal tahun depan. Faktor pendorong utamanya adalah posisi keuangan emiten yang solid, volatilitas pasar yang tinggi, serta kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memberi fleksibilitas buyback tanpa perlu RUPS.
Emiten terfundamental kuat seperti sektor perbankan, otomotif dan alat berat, komoditas energi, serta konsumer primer berpeluang tetap aktif melakukan buyback saham.
Menurut Reza, saham BBCA, UNTR, dan ASII dapat dikoleksi oleh investor dengan target harga masing-masing di level Rp 10.500 per saham, Rp 29.600 per saham, dan Rp 6.700 per saham. Idealnya, investor masuk secara bertahap dan bukan sekadar ikut euforia buyback, karena efeknya pada harga saham seringkali hanya bersifat jangka pendek.
Wafi juga meyakini tren aksi buyback saham masih akan berlanjut sampai awal 2026, terutama jika volatilitas pasar masih tinggi dan valuasi saham-saham blue chip masih di bawah rata-rata. Emiten yang berpotensi buyback saham biasanya memiliki posisi kas kuat dan arus kas operasi positif.
Menurutnya, saham BBCA, ASII, UNTR, dan ITMG masih menarik untuk diakumulasi secara bertahap. Dia menargetkan saham BBCA dapat mencapai level Rp 10.000 per saham, ASII di level Rp 6.800 per saham, UNTR di level Rp 28.000 per saham, dan ITMG di level Rp 25.000 per saham.

















Discussion about this post